Gemuruh tangis warga di sekitar rumah Daeng Basse (45 tahun), isteri Basrie, Makassar, Sulawesi Selatan, seolah memecah kesunyian dan kebisingan kota. Seorang ibu yang sedang hamil muda dan seorang putranya berusia 5 tahun tergolek lemas tak bernyawa. Peristiwa yang diawali dengan kelaparan selama tiga hari berakhir dengan berjuta kesedihan. Lagi dan lagi tragedi kemiskinan merengut jiwa-jiwa anak bangsa. Entah sampai kapan episode kemiskinan, termasuk segudang masalah yang mengitarinya akan berakhir. Apakah kisah ini sebagai bukti telah terpotongnya syaraf kepedulian antar sesama manusia ataukah ini buah dari sikap arogansi kekuasaan yang menguliti nilai-nilai suci arti sebuah nyawa manusia?
Kisah diatas bukanlah kisah yang pertama kita dengar. Tahun lalu 58 orang meninggal di pemukiman Yahukimo di Papua karena kurangnya makanan. Lalu ada satu keluarga yang meninggal dengan meminum racun serangga dikarenakan tidak mampu lagi mencari makan. Juga kisah-kisah lain yang tidak kalah tragisnya terjadi di negeri ini yang mencerminkan betapa kesejahteraan masyarakat di negeri tidak merata secara adil sebab di tengah keterpurukan episode-episode kemiskinan di negara ini, Sekretariat Jenderal (Setjen) DPR berencana untuk merenovasi 495 rumah dinas anggota DPR dengan biaya sekitar Rp 200 juta setiap rumahnya. Tidak hanya itu. Santunan sebesar Rp 13 juta perbulan juga akan diberikan kepada setiap wakil rakyat untuk mengontrak rumah selama proses renovasi.
Selain itu, peningkatan kekayaan yang dramatis dari Aburizal Bakrie dan keluarganya hingga senilai 5,4 miliar dolar AS (hampir Rp 50 triliun) tahun ini atau naik dari 1,2 miliar dolar AS pada tahun 2006 (Pikiran Rakyat, 14/12/2007). Pada saat yang sama, bencana Lumpur di Sidoarjo dijadikan kondisi bencana Nasional sehingga memuluskan PT. Lapindo Brantas (pemegang saham terbesarnya adalah Aburizal Bakrie) untuk lepas tanggung jawab dan melimpahkan semuanya pada pemerintah.
Kemiskinan di Indonesia
Bila kita berkaca kepada data, selama tahun 2007, kondisi kesejahteraan rakyat Indonesia secara umum masih memprihatinkan. Jumlah rakyat miskin masih cukup banyak, dan tidak mengalami perubahan secara signifikan meski berbagai usaha telah dilakukan. Malah menurut BPS, jumlah rakyat miskin di tahun 2006 meningkat menjadi 39,05 juta orang dari tahun sebelumnya yang berjumlah 35 juta orang. Di tahun 2007, meski pemerintah melalui BPS mengumumkan jumlah penduduk miskin turun menjadi 37,17 juta orang atau 16,58 persen dari total penduduk Indonesia selama periode bulan Maret 2006 sampai dengan Maret 2007, tapi Bank Dunia menyatakan jumlah penduduk miskin di Indonesia tetap di atas 100 juta orang atau 42,6%. Ini didasarkan pada perhitungan penduduk yang hidup dengan penghasilan di bawah USD 2/hari/orang, dari jumlah penduduk Indonesia 232,9 juta orang pada 2007 dan 236,4 juta orang pada 2008. [Radar Banten 5/03/2008]
Apa sebenarnya yang menjadi penyebab kemiskinan di negara ini? Bila dilihat dari sudut pandang permsalahan yang terjadi kita dapat menyimpulkan bahwa kemiskinan yang terjadi dikarenakan beberapa faktor: (more…)