Naas memang, bila di tengah-tengah keberadaan alam semesta yang sempurna ini kita masih mempertanyakan adanya pencipta. Sangat aneh dan tidak masuk di akal, seakan akan menjadi sebuah peryataan yang dipaksakan bila kita mengatakan tidak ada pencipta dibalik semuanya ini. Namun justru itu masih sering terjadi, banyak orang masih mempertanyakan keberadaan sang pencipta dan lebih menyedihkannya lagi hal itu terjadi di lingkungan akademisi dan ilmuwan yang harusnya lebih tunduk dan memahami kemahabesaranannya.
Beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti suatu forum diskusi maya yang mengetengahkan sebuah thread berjudul “Tuhan”. Thread tersebut mempertanyakan mengenai keberadaan tuhan. Ada atau tidak ada, berbagai anggapan bermunculan dari yang mengatakan ada dengan alasan keberadaan alam semesta yang luar biasa teratur ini tidak mungkin ada dengan sendirinya sampai pendapat yang mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada dan alam semesta tercipta dengan sendirinya.
Sangat menggemaskan diskusi tersebut, saya tidak bisa diam. Banyak orang berpikir sia-sia untuk mengadakan diskusi dengan orang-orang seperti itu tetapi thread tersebut adalah thread umum dan siapapun bisa membacanya. Mungkin orang yang baru baca thread tidak akan terpengaruh tetapi mungkin juga terpengaruh. Maka dengan pengetahuan yang seadanya mengenai kepercayaan saya akan keberadaan tuhan, saya mencoba mengetengahkan pendapat saya dan berdoa serta berharap diskusi seperti itu tidak menjadi debat kusir dan masih memakai kaidah diskusi yang baik. Beberapa post saya pada thread tersebut akan saya publish disini sebagai bahan diskusi juga dan semoga menjadi kebaikan. SANGAT DIMOHON UNTUK MENINGGALKAN COMMENT agar menjadi masukan sehingga dapat menjadi lebih baik lagi, siapa saja bisa meninggalkan comment.
Berikut adalah post pertama saya di thread tersebut.
asik, ada thread aneh….nimbrung ah
Pembahasan ttg tuhan merupakan pembahasan sejarah peradaban, sejak manusia mulai bisa mengamati alam sekitarnya maka semenjak itulah pembahasan ttg tuhan dimulai. Namun sampai hari ini, pembahasan tuhan selalu menjadi enigma dan tanda tanya berlebih yang tampaknya berbelit-belit.
Untuk bisa memahami Sang Tuhan, haruslah dibedakan antara pencarian tentang keberadaan-Nya (ada tidaknya sang Creator) dengan pembahasan mengenai sifat dan entitas-Nya yang holistik sebab itu adalah dua ruang diskusi yang berbeda pendekatan dan metode pencarian jawabannya.
Untuk bisa mencari tahu ada tidaknya The Creator maka kita harus menjawabnya secara mandiri dengan rasionalitas sebab dengan menjawab pertanyaan ada tidaknya The Creator akan membawa pemahaman baru akan pandangan kita terhadap segala sesuatu sepanjang hidup kita. Sehingga bila pencarian tersebut bersifat doktrin dan input yang diperoleh tidak dibuktikan secara mandiri dengan akal kita sendiri maka akan menjadi sebuah kehampaan dan keraguan akan apa yang kita lakukan di dunia ini. Apa yang kita lakukan di dunia ini? apakah berkaitan dengan Sang pencipta kalaupun ia ada? Maka pertanyaan2 ini akan menggelisahkan bila kita tidak mampu menjawabnya dengan tepat.
Untuk bisa mencari tahu ada tidaknya The Creator maka titik awal objek pembahasan kita adalah semua hal yang bisa kita indera, sebab realitas yang berada di sekitar kita adalah realitas inderawi (keadaan yang tercipta karena pencerapan indera terhadap objek dan diproses dalam otak dengan mengaitkan informasi sebelumnya mengenai objek tersebut). Bila kita melihat realitas materi di dunia ini, maka kita akan menemukan bahwa semua yang bisa diindera dan dipikirkan memiliki sifat memerlukan suatu sistem. Contoh : Bila 2 atom hidrogen berinteraksi dengan 1 atom oksigen maka akan terbentuk air. Pertanyaannya adalah “mengapa harus 2 atom hidrogen dan 1 atom oksigen”. Contoh lain : Air bila berinteraksi dengan panas dengan temperatur 99,63 C pada tekanan 1 atm maka ia akan mendidih menjadi uap. pertanyaan lagi “mengapa harus pada 99,63 C dan 1 atm”. Itu hanyalah contoh dari 2 materi (air dan uap air), bila kita melihat seluruh materi yang kita bisa indera maka semuanya terbentuk karena interaksi unsur/senyawa yang lebih kecil daripadanya dengan hukum dan proporsi tertentu. Darimanakah hukum dan proporsi ini? Kita akan mendaftar apa/siapa saja kira2 yang menentukan hukum dan proporsi pada interaksi ini.
1. Berasal dari salah satu zat yang berinteraksi, dalam kasus air bisa dari hidrogen atau oksigen. Maka hal ini adalah mustahal bin mustahil sebab kedua zat tersebut tunduk pada hukum dan proporsi tersebut secara mutlak. Kedua zat tersebut bila memang yang menentukan hukum dan proporsi ini maka ia pasti akan mampu mengingkari dan terlepas dari proporsi ini. Bila demikian si Hidrogen bisa menawar pada proses interaksi ini misalnya hanya 1,5 atom saja yang ia berikan atau hanya satu saja pada interaksi ini atau bahkan bila 2 atomnya diinteraksikan dengan 1 atom oksigen ia pasti bisa untuk menolak menjadi air namun pada kenyataannya tidak, si hidrogen dan oksigen “dipaksa” menjadi air bila ada 2 atom hidrogen dan 1 atom oksigen bertemu. Maka kemungkinan bahwa hukum dan proporsi ini dari salah satu zat adalah impossible.
2. Dari karakteristik kedua zat tersebut bila bertemu. Ini juga impossible sebab, bila ini adalah benar maka kedua zat bisa besepakat untuk membentuk atau tidak membentuk air bila bertemu (2 atom H dan 1 atom O) tetapi lagi-lagi tidak. Mereka “dipaksa” untuk menjadi air bila proporsinya dipenuhi. jadi kemungkinan inipun mustahil.
3. Bila tidak berasal dari materi tersebut (baik salah satu atau keduanya) maka pasti dari luar materi itu. Maka sistem hukum dan proporsi alam ini haruslah berada di luar alam itu sendiri. Nah, dengan kesimpulan ini maka bisa dikatakan bahwa materi itu dicipta oleh sesuatu yang menentukan hukum dan proporsi tersebut. Materi tidak bisa secara mandiri melahirkan apapun dari tidak ada menjadi ada, ia memerlukan hukum dan proporsi yang berasal dari luar dirinya untuk melahirkan sesuatu. Bisa kita katakan, bahwa yang menentukan proporsi inilah yang menciptakannya. Sehingga, Ia-lah The Creator. Ia harus berada di luar materi. Tidak terikat oleh semua ikatan dan proporsi materi (waktu, ruang dan pengondisian). Ia “independent”. Ia harus azali (tak berbatas) sebab bila ia tidak azali maka ia adalah creature sebab kelahirannya diharuskan pada proporsi batas tertentu. Keberadaannya sebagai pencipta yang lain mengharuskan-Nya bersifat Azali.
hmmm…………..Saya rasa saya tidak perlu mengomentari pernyataan “Bahwa segala sesuatu yang tidak bisa dijelaskan sekarang nanti pasti akan terjawab” bila komentar tersebut diajukan untuk menafikkan adanya sang pencipta. Pernyataan tersebut lahir dari suatu analogi yang penuh stigma dari pengetahuan orang dulu tentang hujan, langit atau apapun itu. Pernyataan itu seakan seperti pelarian dan tidak rasional sama sekali. bagaimana mungkin membuktikan sesuatu dengan bukti yang tidak ada? Jadi jawaban saya terhadap pernyataan ini adalah….. ajukan pernyataan ini bila anda bisa menjelaskan semua yang tidak dapat terjelaskan tadi. (walaupun sudah dapat dijelaskan semuanya). Kalaupun mau dikemukakan, justru kemajuan ilmu pengetahuan saat ini malah menguak sedikit demi sedikit tentang kebutuhan akan “desain yang teratur” yang semakin menunjuk sang tuhan. Tetapi saya tidak mau bertolak dengan jenis pernyataan seperti ini.
Sedangkan untuk mengetahui sifat dan entitas holistik Sang pencipta haruslah dengan pendekatan ketuhanan sebab The Creator itu tidak terikat oleh semua ikatan dan proporsi materi dan kemanusiaan (sebab manusia merupakan materi dengan proses kelahiran tunduk pada proporsi tertentu) dengan demikian semua metode yang kita tahu tidak berlaku pada-Nya. Karena itu tools kita pun harus tools ketuhanan. Untuk itulah perlunya agama, sebab agama memiliki tools ketuhanan tersebut yaitu “kitab suci”. Agama mengklaim bahwa kitab suci adalah firman tuhan bukan? Maka bila demikian, kitab suci adalah jembatan kita untuk mengerti tuhan walaupun secara parsial (bila secara utuh tidak bisa). Nah, pertanyaan selanjutnya “bagaimana memeriksa klaim agama bahwa kitab suci agama tersebut adalah firman Tuhan?”. Jawabannya : kita periksa proses kelahiran kitab suci tersebut sebab bila kita periksa isinya, ada kemungkinan kita tidak menemukan jawaban sebab isinya sudah bersifat ketuhanan (kembali lagi, semua metode kita tidak dapat berlaku padanya dan kita tidak mengerti sama sekali). itulah yang terjadi pada bung Jackal. Bung jackal memeriksa isi kitab suci lalu memutuskan kelahirannya dikarang (oleh musa katanya). Makanya, kita periksa kitab suci pada proses kelahirannya. Sebab kitab suci pada proses kelahirannya sudah berada pada sifat materi (buktinya ia dapat dipegang dan dibaca bukan?). Nah, transformasi dari “semesta” ketuhanan ke alam materi itulah yang harus kita cek kebenarannya. Tetapi kita harus adil dan tidak menggeneralisir keseluruhan agama bila baru menjustifikasi 1 kitab suci saja. Cara mencek kebenaran tersebut?…….nanti ya…..udah terlalu kepanjangan euy….
bersambung………1
wah saya juga mo nulis tentang ini. tulisanmu bagus har sering2 nulis ya! tapi har setau saya hidrogen dipertemukan dengan oksigen nggak lantas jadi air loh.
ntar yang bikin bensin dari air bener donk. dia tu katanya air di pisahin dielektrolisis jadi hidrogen dan oksigen terus diketemuin sama karbon jadi deh bensin.
Harus ada pengkondisian juga fan dengan mekanisme misterius tertentu yang tidak kita pahami untuk bisa membentuk suatu materi. Makanya kita tidak bisa langsung membuat suatu materi hanya dari penggabungan beberapa unsur kimia saja (contoh kamu bensin).
Ada kondisi juga yang harus dipenuhi untuk membuat air, dan kondisi itu tidak sembarangan terpenuhinya. Nah bila semua kondisi yang melingkupi untuk membuat air itu terpenuhi, si hidrogen dan di oksigen pasti akan “dipaksa” untuk menjadi air.
yo setuju setuju… bagus bagus…
Terima kasih kepada bung errick yang sudah mampir di blog sederhana ini…
Blog antum saya link ya.
tulisan saya dah jadi. yah bukan tentang keberadaan tuhan sih tapi sedikit nambahi tulisanmu mungkin. kalo bicara mekanisme, kita tau loh.
emm, coba baca invasi politik dan budayanya salim federick. kalo menurut beliau barat jauh dari tuhan itu karena selalu menghindari kata mengapa. dan berpuas diri dengan pertanyaan bagaimana.
kalo mo berpikir dengan ilmiah, maka mencari Tuhan itu bukanlah menjadi acuan pertama.. dengan kata lain, ndak penting mencari tuhan itu..
menjadi sesuatu yang penting ketika kita melakukan penalaran atas Alam semesta.. dan penalaran objektif tentang alam semesta(alurnya akang udah bagus keknya..) akan mengantarkan kita kepada semiotika yang tidak bisa kita transformasikan menjadi ilmu(bahasa-red).. itulah Tuhan..
dan untuk mentransformasikan ketuhanan dalam kaitannya dengan kemanusiaan, disitu dibutuhkan agama..
boleh deh kita bikin kajiannya. di sini aja. mencari tuhan bukan acuan pertama bisa disetujui bisa tidak tergantung orangnya kali. tapi saya setuju. tapi kalo dikatakan tidak penting saya tidak setuju.
kalau menurut saya yang penting bagi manusia adalah bagaimana ia menjalani kehidupannya. seiring dengan berjalannya waktu ia akan mulai mempertanyakan mengenai apa yang ia lakukan, mengapa ia melakukan sesuatu dan sampai kapan ia melakukannya.
pertanyaan ini tidak bisa dijawab begitu saja dan memunculkan pertanyaan, memangnya dari mana saya berasa dan akan kemana saya. ketika pertanyaan ini semakin besar jadilah pertanyaan ini uqdatul kubra.
dari mana saya sebelum kehidupan ini dan akan kemana saya setelah mati.
nah karena itu penting mencari tuhan itu. pencarian tuhan akan menjawab uqdatul kubra baik hasilnya ada maupun tidak ada.
malah saya akan bertanya apakah penting orang memikirkan alam semesta?
khan dah dibilang, jika kita berpikir ilmiah pertama kali.. maka Tuhan itu ada atau tidak penting.. saat kita baru bisa berpikir, yang kita tahu adalah bahwa kita subjek atas diri kita.. setidaknya itu penalaran atas kesadaran diri kita..
ada atau tidak adanya suatu semiotika yang kemudian kita namakan Tuhan pada saat awal pemikiran tidak penting untuk diselesaikan karena kita tidak punya hubungan logis kesana.. secara deduktif jika hal tersebut dilakukan, malah menimbulkan kesesatan berpikir..
yang harus kemudian dilakukan adalah menalar segala hal yang berkaitan dengan subjek(diri kita-red).. dengan kata lain alam semesta.. untuk mendapatkan segala hubungan2 logis yang ada di alam semesta..
yang perlu digaris bawahi adalah bahwa kita tidak menalar Tuhan.. kita tidak mencari Tuhan.. tapi kita menalar alam semesta untuk mendapatkan pengetahuan tentang objek dan predikat yang bisa dicapai..
dengan pencarian kepada alam semesta(yang jika dilakukan secara objektif akan membawa kita kepada semiotika Tuhan).. kita akan dapat menentukan predikat dan objek yang dapat dicapai sang subjek..
Sebetulnya yang dikatakan si Abah (schlachthausabattoir)itu ada benarnya. Penalaran pertama seorang manusia adalah mengenai keadaan dirinya secara subjektif. Makanya kemudian timbul pertanyaan2 yg bernama uqdatul kubra.
Parameter jawabannya pun subjektif dan egosentris yaitu sesuai dengan fitrah manusia dan memuaskan akal. Coba, bagaimana tidak subjektif?
Nah, penalaran si abah ini sesuai dengan buku An-Nahdah.
Namun perlu dicermati juga bahwa penalaran ini bukan berarti menyimpulkan bahwa Mencari keberadaan tuhan itu tidak penting.. Menurut saya ini terlalu vulgar.
Bukan tidak penting, tetapi Keberadaan tuhan adalah jawaban atas penalaran inderawi yang tidak mampu dibahasakan lagi oleh akal. Jadi, sebenarnya Irfan dan si abah itu sama. Nih saya nukil perkataan irfan
Tetapi mungkin loncatan irfan untuk langsung menghubungkan uqdatul kubra dengan Keberadaan Tuhan itulah yang dipermasalahkan si abah. Lihat kan yang saya bold? Bener kan bah begitu?
ya saya pikir juga nggak beda kok. bedanya cuma mulai dari mana. kalau saya mulainya dari uqdatul kubra sehingga butuh mencari bukti keberadaan tuhan lalu menjawab uqdatul kubra itu. nah di pencarian tuhan, saya sepakat kita memang tidak membicarakan tuhannya. tapi mencari bukti pada objek yang bisa kita indera.
kalau uki kita menalar dunia lalu menemukan bukti keberadaan tuhan. gitu kan? cuman seperti pertanyaan saya kenapa ada orang yang mau menalar alam semesta?
bukan gitu, maksudnya apa motivasi orang menalar semesta. nggak ada kecuali mencari tuhan. jadi maksud saya orang mencari tuhan dulu baru menalar alam semesta. kayaknya disitu yang beda dengan uki, dia menalar semesta dulu baru menemukan tuhan.
abah2 saha??
apa motivasi orang menalar alam semesta?? ya buat hidup.. kenapa buat hidup harus menalar alam semesta?? karena hidup kita berada dalam aspek ontologi, aksiologi dan epistemologi alam semesta..
nah sekarang kalo yang dinalar Tuhan dulu.. lah kok tiba2 kesana?? darimana kita mendapatkan semiotika Tuhan?? bagaimana bisa turunan deduktif atau induktif hidup kita tiba2 ke Tuhan?? bukankah itu kesesatan berpikir? harusnya kan yang langsung dalam penalaran kita.. Alam semesta..
btw.. Uqdatul Qubra itu adalah bagian penalaran alam semesta itu sendiri.. jangan salah nangkep.. membuat pertanyaan itu mikir, artinya ya menalar..
pertama2 orang dewasa, terus menalar alam semesta, ada uqdatul qubra, ada Tuhan.. kalo akang khan malah, uqdatul qubra, Tuhan, alam semesta, Tuhan lagi.. eh iya enggak??
motivasi menalar alam semesta adalah untuk mengetahui predikat dan objek hidup.. ngapain kalo motivasinya mencari Tuhan?? nda penting banget?!!
maksud ane ga penting mencari Tuhan adalah secara proses kita ga tahu kaitan kemanusiaan dengan Tuhan.. yang kita butuhkan bukan Tuhan.. tapi kemanusiaan.. kenapa?? ya karena kita manusia.. bagaimana kemanusiaan harus berjalan?? dengan penalaran alam semesta kita akan mendapatkan jawabannya yaitu dari Ketuhanan..
buat ilustrasi.. semiotika ana mengenai mencari Tuhan itu adalah mencari ilmu tentang Tuhan.. dalam kehidupan manusia, itu sama sekali ga penting.. Tuhan ya Tuhan ajah.. yang kita perlukan adalah bagaimana kita harus hidup.. Jika misalnya tuhan itu ada tapi tidak punya perintah apapun kepada manusia, tidak berkehendak apapun kepada manusia.. maka kita ga perlu lagi mengungkit2 Tuhan.. ga penting banget.. kalo kenyataan misalnya seperti itu maka hidup kita bakal sesuai dengan cara orang2 sekuler sekarang..
jadi inilah maksud ana ga penting mencari Tuhan itu.. soalnya cuman kayak orang2 filsafat, atau sufi, yang nda jelas2 ituh.. yang kita butuhkan adalah kemanusiaan, baik hal2 yang rasional maupun suprarasional..